“Inilah resesi yang kita rancang sendiri.” Kalimat itu disampaikan Gregory Mankiw dari Univesitas Harvard dalam wawancaranya dengan Michael Klein dari Universitas Tufts.
Mankiw benar. Untuk mengatasi krisis ekonomu yang dipicu oleh pandemi ini, secara sadar kita meminta, bahkan memkasa, agar orang, sebisa mungkin, untuk tinggal di rumah. Inilah krisis yang memangkita rancang sendiri. Namun, hal itu memang harus dilakukan untuk menghambat penularan.
Akibatnya, ekonomi melambat. Kita memang mulai melihat pembalikan dan tanda-tanda pemulihan ekonomi. Optimisme juga muncul karena tersedianya vaksin. Meski demikian, kita tetap harus mempersiapkan diri jika proses vaksinasi memakan waktu. Penerapan protokol kesehatan dan penerapan metode tes, lacak, dan isolasi tetap penting. Penanganan sektor kesehatan adalah kunci. Pemulihan ekonomi akan bergantung pada kemampuan kita mengatasai pandemi. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana proses pemulihan ekonomi di tahun 2021?
Tiga pola pemulihan
Ada tiga pola yang mungkin terjadi ke depan. Pertama, pola pemulihan berbentuk swoosh shape (logo sepatu Nike), di mana pertumbuhan ekonomi mencapai titik terendah pada triwulan kedua 2020, lalu mulai membaik dan akan mencapai pertumbuhan positif, dalam triwulan pertama 2021. Pemulihan ekonomi mungkin akan lebih cepat pada paruh kedua 2021. Asumsinya: pandemi tak makin parah sehingga pemerintah harus memberlakukan lagi pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Namun, pola pemilihan ekonomi tak tunggal sebenarnya. Kedua, dalam konteks antarsektor dan kelompok pendapatan, pemulihan ekonomi mungkin akan berbentuk K-Shape, sebuah istilah yang dipopulerkan Peter Atwater dari William & Mary sekitar April 2020. Intinya: pemulihan akan berlangsung secara tidak merata, ada yang naik ke atas dan ada yang turun ke bawah seperti huruf K. Sektor-sektor yang membaik terutama yang berkaitan dengan perusahaan tekonologi, kesehatan, atau mereka yang memiliki tabungan. Namun, ada sektor yang ambruk, misalnya UMKM, atau kelompok marjinal yang tak punya tabungan.
Ketiga, untuk sektor keuangan (pasar modal dan obligasi), kita melihat pola pemulihan mungkin berbentuk V-shape, di mana pemulihan terjadi cepat. Pola inilah yang mungkin kita hadapi di 2021.
Untuk melihat hal ini lebih dalam, mungkin ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, lebih dari 80 tahun lalu, pada bulan Desember yang dingin di Cambridge, John Maynard Keynes, ekonom terbesar pada abab-20, memperkenalkan sebuah konsep sederhana: average propensity to consume (PAC) atau rata-rata konsumsi tergadap total pendapatan. Ia percaya tabungan adalah barang mewah. Implikasinya, kelompok kaya akan memiliki rasio tabungan terhadap pendapatan yang lebih tinggu dibandingkan kelompok miskin.
Dengan kata lain, pendapatn semakin meningkat, porsi tabungan terhadap total pendapatan akan meningkat. Implikasinya, porsi konsumsi akanmenurun ketika pendapatan meningkat. Survey Bank Indonesia membenarkan Keynes: kelompok pengeluaran (sebagai proksi pendapatan) di bawah Rp. 3 juta memiliki rata-rata porsi konsumsi 69 persen terhadap total pendapatan (Oktober 2020). Adapun porsi konsumsi terhadap total pendapatan untuk kelompok dengan pengeluaran Rp. 5 juta ke atas adalah 66 persen.
Obervasi yang lebih rinci menunjukkan penurunan porsi tabungan terhadap total pendapatan yang paling dalam terjadi pada kelompok pengeluaran Rp. 3 juta ke bawah. Pendapatan mereka anjlok sehingga harus menguras tabungannya. Bagaimana dengan kelompok menengah atas (pengeluaran Rp. 5 juta ke atas)? Rasio tabungan terhadap total pendapatan justru meningkat hampir 8 persen. Kelompok ini mengurangi konsumsi barang non-esesnsialnya- karena banyak aktivitas dari rumah – sehingga porsi tabungan pun naik.
Ini menjelaskan mengapa dan pihak ketiga (DPK) di perbankan mengalami peningkatan. Data Lembaha Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan pertumbuhan DPK tertinggi terhadi pada kelompok tabungan Rp. 5 miliar ke atas. Di sini, ada potensi masalah ketimpangan pendapatan. Kelompok menengah atas mungkin akan mampu keluar dari krisis ini. Mereka punya tabungan dan memiliki akses digital. Di sisi lain, kesejahteraan kelas menengah bawah berisiko terus menurun akibat tabungan yang terkuras dan terbatasnya akses digital. Implikasi dan kondisi ini muncull K-shaped recovery pasca Covid-19.
Kedua, studi dari Office of Chief Economust (OCE) Bank Mandiri menunjukkan, sampai dengan November nilai belanja kelompok menengah atas berda di bawah kondisi prapandemi. Adapun indeks belanja kelompok bawah sudah kembali ke kondisi pra Covid-19. Artinya, yang berbelanja justru kelompok bawah. Mengapa kelas menengah atas masih menahan belanjanya? Bank Dunia dalam laporannya, Aspiring Idnonesia: Expanding Muddle Class, menunjukkan kelompok dengan pengeluaran di atas Rp. 6 juta per bulan adalah konsumen utama untuk hiburan, rumah, dan barang tahan lama. Kita tahu, dalam pandemi, aktivitas hiburan terhenti karena protokol kesehatan.
Konsisten dengan ini, OCE Bank Mandiri menunjukkan bahwa di Jawa, indeks belanja terendah per akhir November 2020 adalah travel, entertainmentm dan airlines. Inilah yang menjelaskan mengapa penuurunan belanja kelas menengah atas lebih tajam darupada kelas menengah bawah. Apakah kelas menengah atas mengurangi konsumsinya karena kesadaran akan kesehatan? Belum tentu. Konsumsinya berkurang karena aktivitas hiburan praktis terhenti akibat protokol kesehatan. Imlikasinya, selama masalah kesehatan belum teratasi, belanja kelas menengah atas akan tertahan.
Memang benar kelas menengah atas lalu mencari aktivitas penggantinya, misalnya dengan membeli barang-barang hobi, seperti sepedam ikan hias, tanaman hias, dan barang-barang koleksi. OCE Bank Mandiri menunjukkan indeks belanja barang hobi saat ini bahkan di atas masa pra Covid-19. Ada kenaikan tajam di sana, tetapi belanja hobi belum mampu menggantikan belanja entertainment, travel, dan sebagainya.
Ketiga, perhitungan awal dengan menggunakan metode kuantitatif yang say alakukan menunjukkan adanya perbedaan perilaku dari kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta ke atas dengan kelompok pengeluaran Rp 3 juta ke bawah dalam hal ekspektasi pengasilan ke depan dan mobilitas. Saya sadar ada keterbatan data, karnea itu hasil perhitungan ini harus diinterpretasi secara hati-hati. Setelah data tersedia lebih baik, ke depan perlu dilakukan studi yang lebih dalam dengan metodologi yang lebih baik. Namun, sebagai indkasi awal, ia membantu kita untuk menjelaskan perilaku pelaku ekonomi saat ini.
Temuan ini menunjukkan, untuk kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta ke atas, keputusan untuk kelyar atau tinggal di rumah tidak dipengaruhi oleh ekspekstasi penghasilan ke depan (Indeks Ekspekstasi Penghasilan/IEP dari BI). Alasannya mungkin karena mereka memiliki cukup tabungan. Karena itu, kelompok ini memiliki kemewahan untuk memilih tinggal atau keluar rumah.
Bagaimana dengan kelompok pengeluaran Rp 3 juta ke bawah? Temuan saya menunjukkan ketika ekspekstasi penghasilan menurun, mobilitas orang keluar rumah meningkat. Sebaliknya, ketika mobilitas keluar rumah naik, ekspekstasi penghasilan untuk kelompok penghasilan kurang dari Rp 3 juta juga naik, Temuan awal ini mendukung argumen yang pernah saya sampaikan sebelumnya: kelas menengah bawah tak memiliki cukup tabungan untuk tinggal di rumah dalam waktu lama.
Ketika ekspekstasi penghasilan menurun, ia harus keluar rumah untuk mencari uang. Itu sebabnya, PSBB bias berpihak kepada kelompok menengah atas apabila pemerintah tidak menyediakan bantuan sosial (bansos) dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) kepada kelompok menengah bawah.
Keempat, saya pernah menulis di harian ini (11/11/2020), bahwa selama protokol kesehatan masih diterapkan karena pandemi belum berakhir, ekonomi tak bisa beroperasi 100 persen. Implikasinya, jika skala ekonomis tak terpenuhi, perusahaan akan enggan menambahkan investasi baru karena beresiko merugi, Perhitungan awal yang saya lakukan memperkuat indikasi itu: ada hubungan yang kuat anatar kapasitas terpasang dan mobilitas. Semakin tinggi orang yang tinggal di rumah, semakin rendah kapasitas produksi yang digunakan. Dan semakin rendah kapasitas produksi yang digunakan, semakin rendah pula tambahan investasi. Implikasinya, investasi belum akan meningkat jika mobilitas belum kembali normal.
Stimulus fiskal agresif
Kelima, dengan kondisi seperti ini, pemulihan ekonomi pada tahun 2021 tampaknya masih akan bergantung pada pengeluaran pemerintah, khususnya bansos. Sejak awal saya menyampaikan bahwa sebaiknya bansos diberikan dalam bentuk BLT. Preferensi dan kebutuhan setiap rumah tangga berbeda, karena itu ia tdak bisa diseragamkan dalam bentuk bantuan natura seperti sembako.
Pemerintah harus memberikan bantuan yang sifatnya fleksibel. BLT memberikan fleksibilitas bagi penerimanya. Peraih Nobel Ekonomi Milton Friedman menyatakan bahwa bantuan tunai lebih unggul daripada bantuan natura. Alasannya, biaanya lebih murah; bantuan tunai lebih bermanfaat bagi kelompok miskin karena memberikan kebebasan kepada orang untuk menentuka apa yang ia butuhkan; dan bantuan tunai memotong rantai birokrasi sehingga risiko kebocoran bisa lebih kecil. Itu sebabnya, desain bansos akan sangat menentukan efektivitasnya bagi kelompok menengah bawah.
Dalam kaitan kebijakan fiskal ini, risiko K-shaped recovery menuntut pemerintah untuk merancang kebijakan fiskal agar lebih berpihak kepada pemerataan, misalnya dengan memberikan prioritas kepada infrastruktur dan literasi digital untuk mengatasi ketimpangan digital; investasi dalam pendidikan dan vokasi untuk meningkatkan ketrampilan dan melatih ulang ketrampilan; akses kesehatan terutama yang berkaitan dengan vaksin Covid-19, dan perbaikan sistem perlindungan sosial.
Keenam, proyeksi pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2021 menunjukkan bahwa penerimaan perpajakan akan berada pada kisaran 8.4-9.1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun 2023. Padahal, seperti saya bahas di atas, kita membutuhkan stimulis fiskal yang agresif untuk pemulihan ekonomi. Implikasinyam defisit anggaran meningkat.
Saya paham bahwa ada risiko utang akan meningkat. Namun, tema dari kebijakan fiskal di seluruh dunia saat ini untyuk mengatasi Covid-19 adalah “whatever it takes”. Kita tahu, Undang-undang No. 2 Tahun 2020 menyatakan bahawa defisit APBN harus kembali berada di bawah 3 persen pada 2023. Untuk mencapai target defisit anggaran di bawah 3 persen pada 2023, pemerintah harus mulai menurunkan defisit anggarannya pada 2022.
Saya menyarankan agar pemerintah melakukan hal ini dengan hati-hati. Jika pengetatan dilakukan terlalu cepat dan drastis, ada risiko terjadi kontraksi. Jika pemulihan ekonomi berjalan lambat akibat terbatasnya ekspansi fiskal, rasio utang terhadap PDB justru tak akan menurun karena pertumbuhan PDB-nya lemah. Dalam kondisi ini, upaya untuk perbaikan penerimaan pajak dengan melakukan reformasi dalam hal administrasi perpajakan menjadi penting. Selain itu, perbaikan kuliats belanja bahwa alokasi anggaran dilakukan ke sektor produktif menjadi amat penting.
Pada 2021 ada harapan pemulihan ekonomi akan terjadi. Pertanyaannya: seberapa cepat itu terjadi, dan apakah pemulihan itu akan membawa kita pada struktur ekonomi yang lebih baik? Itu akan tergantung kemampuan kita dalam mengatasi pandemi. Tanpa itu, kita dipaksa untuk terus berkutat dengan resesi yang kita rnacang sendiri, akibat keharusan penerapan PSBB atau protokol kesehatan. Penanganan kesehatan adalah kunci. Saya jadi ingat ucapan Mankiw dalam wawancaranya: krisis ekonomu sata ini lebih membutuhkan ahli mikrobiologi ketimbang ekonom. Ia tentu berlebihan. Mengatasi pandemi adalah tugas kita semua. Namun, ada kebenaran dalam ucapannya.
Diambil dari: Harian Kompas (16/12/2020)
Penulis: Muhamad Chatib Basri (Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia)
Image: Freepik