Laporan Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank/ADB) memproyeksi pemulihan ekonomi Indonesia akan berlangsung dengan cepat. Kabar ini tentu menjadi udara segar bagi perekonomian Indonesia di masa yang serba tidak pasti ini.
Proyeksi ini diambil dari naiknya permintaan domestik yang mampu mendongkrak indeks manajer pembelian di bidang manufaktur hingga melampaui ambang batas 50 pada bulan Agustus.
Keyakinan konsumen juga semestinya ikut naik seiring bantuan pembiayan dari pemerintah untuk investasi dan usaha.
Ekonomi RI diyakini akan kembali ke tingkat pertumbuhan 5.3 persen pada tahun 2021. Seiring pulihnya belanja rumah tangga dan dunia usaha pada tahun 2021, inflasi diperkirakan akan naik ke level 2.8 persen.
ADB menyebut, pemulihan ekonomi Indonesia tahun depan akan didukung oleh perekonomian global dan reformasi domestik yang meningkatkan investasi.
“Ke depannya, prioritas kebijakan yang konsisten dan terkoordinasi, disertai keseimbangan antara perlindungan nyawa dan mata pencaharian, serta memulai kembali kegiatan usaha secara aman, tetaplah penting guna memastikan pemulihan yang cepat dan inklusif,” papar Winfried.
Akibat Covid-19, Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank/ADB) memproyeksi ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi 1 persen di 2020. Kontraksi ini merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia sejak krisis keuangan Asia tahun 1997-1998.
Kontraksi juga terjadi di tengah proyeksi pertumbuhan negatif keseluruhan negara Asia berkembang (Developing Asian country), termasuk Malaysia (-5,0 persen), Filipina (-7.3 persen), dan Thailand (-0.8 persen).
Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein mengatakan, Indonesia akan terkontraksi meskipun memliki fundamental makroekonomi yang kuat.
“Indonesia diperkirakan akan menghadapi jalur pertumbuhan yang sulit sampai dengan akhir tahun 2020, mengingat besarnya ketidakpastiaan dalam cakupan dan tren pandemi di Indonesia,” kata Winfred alam laporan ADB.
Laporan menyebut, kontraksi disebabkan karena konsumsi Indonesia mengalami kontraksi pada semester I-2020. Hal ini seriing dengan pemotongan belanja oleh rumah tangga dan penundaan investasi oleh dunia usaha.
Permintaan terhadap ekspor Indonesia pun ikut merosot seiring diberlakukannya karantina wilayah di seluruh dunia.
ADB memprediksi, belanja rumah tangga akan tetap rendah dalam waktu dekat, mengingat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menganggulangi penyebaran virus.
“Karena permintaan global dan domestik akan tetap lemah pada 2020, kegiatan perdagangan dan invesatsi pun akan tetap rendah,” papar Winfried.
Lemahnya permintaan domestik dalam jangka waktu dekat membuat ADB merevisi perkiraan inflasi di Indonesia. Tahun ini, inflasi diprediksi menjadi 2 persen, dari laporan ADB pada April sebesar 3 persen.
Sementara itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan turun menjadi setara dengan 1,5 persen produk domestik bruto 2020.
“Sebabnya karena impor barang modal merosot lebih tajam daripada kontraksi pendapatan dari pariwisata dan ekspor komoditas,” tutur Winfried.
(Sumber: kompasdotcom)