Setelah sebelumnya mengungkap bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berbentuk seperti logo Nike, pada awal November lalu Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, kembali memanfaatkan media sosial untuk memberikan pandangan pada khalayak umum terkait status Indonesia yang secara resmi masuk dalam resesi. Berikut pendapatnya:
Dugaan saya pertumbuhan ekonomi akan mulai positif di Triwulan 1, 2021. Triwulan 4 2020, ada kemungkinan ekonomi masih di zona negatif atau mendekati 0%, seperti yang saya sampaikan beberapa minggu lalu.
Import sudah mulai membaik, yg mencerminkan permintaan terhadap barang modal dan bahan baku meningkat. Artinya kita bisa berharap bahwa investasi dalam 6 bulan lagi akan semakin membaik.
Kemarin BPS mengumumkan ekonomi Indonesia Triwwulan 3 (year on year) tumbuh minus 3.49%. Walau masih negatif dan Indonesia mengalami resesi namun pertumbuhan ekonomi sudah mulai turn around. Apa yg bisa kita baca disini?
Setelah permintaan bergerak, maka kebijakan moneter dengan penurunan bunga dan ekspansi kredit akan lebih efektif.
Yg amat penting ditingkatkan adalah upaya mengatasi pandemi. Bila pandemi merebak lagi maka pemulihan bisa berbentuk W. Karena itu faktor kesehatan amat penting.
Lalu bagaimana prospek 2021? Akan sangat tergantung bagaimana penanganan pandemi. Porsi terbesar dari konsumsi rumah tangga adalah kelas menengah atas. Kelas menengah atas akan cenderung menabung dan enggan konsumsi jika situasi pandemi belum baik.
Tanpa permintaan meningkat, investasi juga masih akan sulit. Keputusan menambah investasi juga tergantung sejauh mana kapasitas terpasang itu terpakai. Dalam kondisi pandemi terjadi, ekonomi tidak akan mungkin beroperasi 100% krn adanya protokol kesehatan.
Protokol kesehatan menuntut adanya pembatasan. Akibatnya skala ekonomis tidak akan tercapai. Bila skala ekonomi tak tercapai kapasitas terpasang akan under utilized. Lalu untuk apa menambah investasi? Krn itu investasi masih akan lambat jika pandemi belum bisa diatasi.
Game changer-nya adalah vaksin. Tetapi pemerinth juga harus bersiap seandainya proses vaksi memakan waktu, termasuk distribusinya.
Jika pemerintah ingin memberikan vaksin kepada 25 juta penduduk, maka per hari harus dilakukan vaksinasi 68 ribu orang. Sanggupkah kita? Kalau toh sanggup dibutuhkan satu tahun penuh untuk itu. Artinya situasi normal baru terjadi tahun 2022.
Tahun 2021, ekonomi mungkin hanya bisa beroperasi 70-80%. Dalam kondisi seperti ini, dimana export masih lemah, investasi swasta masih terbatas, kita masih harus tergantung kepada fiskal stimulus.
Hal lain yg harus diperhatikan adalah ketimpangan. Ekonomi bisa pulih tapi timpang, karena itu fiskal stimulus juga harus memperhatikan ini dalam design fiskal stimulusnya.
Image: Freepik