Terjangkit Resesi, Bagaimana Prospek Pemulihan Ekonomi RI?
Wakil Direktur Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, jika dibandingkan dengan negara lain, kapasitas Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5 persen pada 2021 akan lebih sulit.
Prospek pemulihan ekonomi Indonesia pada 2021 diperkirakan masih akan mengalami tantangan yang berat, sejalan dengan ketidakpastian yang masih tinggi terkait dengan pandemi Covid-19.
Wakil Direktur Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, jika dibandingkan dengan negara lain, kapasitas Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5 persen pada 2021 akan lebih sulit.
Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi, salah satunya PMI manufaktur Indonesia yang pada Oktober 2020 masih tercatat dalam level kontraksi, meski meningkat tipis menjadi 47,8.
“Indonesia terlihat pemulihan sudah terjadi, tapi belum kembali seperti tahun lalu,” katanya, dalam video conference, Rabu (18/11/2020).
Menurutnya, ekonomi Indonesia sudah sedikit lepas dari tekanan yang luar biasa akibat pandemi Covid-19. Namun demikian, pemulihan masih berjalan lambat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya di tingkat Asean.
Pada 2021, Eko memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai kisaran 2,5 persen hingga 3 persen, karena sektor riil pada tahun depan diperkirakan masih berjalan sekitar 50 persen dari kapasitasnya.
Dia mengatakan, kunci utama pemulihan ekonomi adalah penanganan pandemi Covid-19. Namun, program vaksinasi pada tahun depan pun dinilai masih memiliki banyak tantangan, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit meningkat signifikan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan kinerja sektor riil pada dua bulan terakhir terlihat stagnan, padahal sebelumnya mengalami perbaikan yang kencang setelah penurunan terdalamnya pada kuartal II/2020.
David menilai, pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada kecepatan eksekusi vaksinasi Covid-19 pada tahun depan. “Kalau [vaksinasi] bisa di semester I, akan mempercepat pemulihan di tahun depan. Kalau tertunda hingga semester II, lalu kasus Covid-19 tinggi, lalu PSBB on dan off, pemulihan akan terkendala,” jelasnya.
Terlebih lagi, jika tingginya kasus Covid-19 dan tarik ulur PSBB terjadi di DKI Jakarta. Hal ini juga akan memengaruhi prospek pemulian ekonomi di daerah lainnya, dikarenakan kontribusi DKI Jakarta terhadap PDB mencapai sekitar 16 persen dan kontribusi terhadap total tabungan atau dana pihak ketiga (DPK) nasional mencapai 55 persen.
“Jika distribusi vaksin bisa selesai di semester I tahun depan, komoditas pulih, dan aturan turunan omnibus law bisa selesai, pemulihan akan bisa di 4 hingga 5 persen,” ujarnya.
Sumber: Bisnis Indonesia
Image: Freepik