Pandemi Covid-19 merusak perekonomian hampir seluruh negara di dunia. Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, wabah tersebut mempengaruhi perekonomian negara di berbagai belahan dunia tanpa pandang bulu, miskin maupun kaya.  Lebih dari 40 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi Covid-19 dan lebih dari 1 juta orang meninggal dunia. Banyak negara yang terpaksa melakukan karantina dengan menutup sekolah, tempat kerja, hotel, restooran dan berbagai tempat publik sehingga berdampak pada jatuhnya perekonomian mereka.
“Covid-19 memberikan dampak sangat dalam dan brutal terhadap perekonomian seluruh dunia. Tidak memandang bulu, apakah negara berkembang atau maju, negara barat atau timur, negara low income atau high income. Semuanya terkena,” ujar Sri dalam acara Capital Market Summit and Expo 2020, Senin (19/10). Sri Mulyani menjelaskan, negara-negara di Eropa mengalami kontraksi hingga mencapai 20% pada kuartal II 2020. Ekonomi Italia terkontraksi hingga 17,9%, Jerman 11,7%, Spanyol 21,1%, dan Inggris 21,7%. Sejumlah negara seperti Spanyol dan Inggris pun diperkirakan masih mengalami kontraksi di atas 10% pada kuartal III. “Meksiko terkontraksi mendekati 119% pada kuartal kedua dan masih akan terkontraksi 11,5% pada kuartal III. India bahkan proyeksi IMF akan terkontraksi di atas 10% untuk sepanjang tahun ini,” ujarnya.
Hal yang sama juga dialami negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina yang mengalami kontraksi di atas 10% pada kuartal kedua tahun ini. Keempat negara anggota ASEAN itu juga diprediksi masih akan mengalami kontraksi ekonomi di atas 4% pada kuartal ketiga Adapun ekonomi Indonesia pada kuartal II terkontraksi sebesar 5,3% dan akan kembali negatif hingga mencapai 2,9% pada kuartal III. Namun, Sri Mulyani menjelaskan, ekonomi Indonesia masih dalam situasi yang baik jika dibandingkan negara-negara G20 dan berkembang lainnya.  “Proyeksi Kementerian Keuangan, Indonesia akan mengalami kontraksi di antara minus 1% sampai minus 2,9% pada kuartal ketiga. Secara keseluruhan sepanjang tahun, minus 0,6% hingga 1,7%.” ujar dia.  Prediksi ini sedikit lebih buruk dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni minus 1,1% hingga positif 0,2%. Hal ini terjadi salah satunya karena faktor pemulihan ekonomi yang tertahan pada September, terutama karena kebijakan PSBB.
Meski demikian, Sri Mulyani menyebut aktivitas perekonomian pada kuartal III lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya. Ia pun memperkirakan pemulihan ekonomi akan terus berlanjut hingga tahun depan. Pemerintah berharap perekonomian Indonesia pada tahun depan akan pulih dan kembali tumbuh di kisaran 5%.  IMF, Bank Dunia, serta OECD memproyeksi ekonomi Indonesia pada tahun ini akan terkontraksi antara 1% hingga 3%. Namun, ekonomi Indonesia diprediksi akan tumbuh 5% hingga 6% pada tahun depan.  Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 diprediksi berada di antara minus 2% hingga 1%. Namun, perekonomian akan mulai memasuki masa pemulihan pada 2021 dan tumbuh 4,4%. Perbaikan tersebut dengan asumsi kurva infeksi Covid-19 sudah menunjukkan perlambatan disertai prospek penemuan dan produksi vaksin. Perbaikan tersebut dengan asumsi kurva infeksi Covid-19 sudah menunjukkan perlambatan disertai prospek penemuan dan produksi vaksin.