Kemarin, Chatib Basri, Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia berbagi pendapatnya tentang perilaku masyarakat terkait PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang kembali diberlakukan di Jakarta mulai 1 September 2020 lewat akun Twitter pribadinya. Apa pandangan ekonom berusia 55 tahun  ini dan bagaimana kita dapat mempelajari perilaku kita sebagai masyarakat dalam mengahadapi pandemi Covid-19 ini? Berikut beberapa poinnya:
1. Orang hanya bisa tinggal di rumah jika ia memiliki tabungan atau mendapat bantuan sosial. Jika tidak ada tabungan atau perlindungan sosial, orang akan keluar rumah. Karena itu saya katakan, PSBB bias memihak kelompok menengah atas jika bansos tidak diberikan. BLT menjadi penting sekali.
2. Faktor kedua adalah faktor psikologi yang dikenal dengan behavirol economics. “Kami bukan psikolog, karena itu psikolog lebih punya otoritas untuk bicara ini. Kami hanya menggunakan approach behavirol economics tentang kemungkinan cognitive bias,” ucapnya.
3. Ada beberapa kemungkinan penjelas. Satu, optimism bias: orang cenderung overestime terhadap kemampuan dia menghindari virus. Mereka berpikir saya hati-hati, orang yang kena itu tidak hati-hati. Saya lebih baik dari orang lain. Contoh lain, teman saya keluar aman, apalagi saya yang lebih hati-hati.
4. Economic impact itu probabilitasnya lebih real, saya di rumah tidak bisa kerja, saya keluar mungkin kena virus mungkin juga tidak. Lebih baik saya keluar. Ini mirip yang dijelaskan dalam prospect theory.
5. Kebiasaan manusia itu memang makhluk sosial. Kasus kematian membuat orang menjadi takut dalam beberapa hari tapi setelah itu, kebiasaan itu akan kembali.
6. Argumen behavioural economics ini perlu diperkaya dari segi psikologi. Tetapi memang dalam situasi mengatasi pandemi ini pendekatan holistic dari segi ekonomi, sosiologi, dan psikologi menjadi penting. Kebijakan harus didesain dengan mempertimbangkan fakto-faktor itu.