Keyakinan masyarakat Indonesia tentang perbaikan ekonomi dalam enam bulan ke depan merupakan yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya. Ini berdasarkan survei yang dilakukan perusahaan riset Ipsos. Dalam survei itu ditemukan, sebanyak 75 persen masyarakat Indonesia optimistis adanya perbaikan ekonomi dalam enam bulan ke depan. Di bawahnya menyusul Vietnam yakni 54 persen dan Filipina 50 persen. Adapun mayoritas masyarakat Singapura justru merasa pesimis dan hanya 28 persen yang berharap perekonomian dalam negeri mereka akan meningkat.
Managing Director Ipsos di Indonesia, Soeprapto Tan menyatakan, melihat perkembangan hasil survei gelombang kedua yang dilakukan pihaknya untuk kawasan Asia Tenggara, mayoritas masyarakat Indonesia masih memiliki optimis yang tinggi akan adanya perbaikan ekonomi domestik di Indonesia secara keseluruhan. Terlebih jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. “Perlu kami tekankan bahwa ketika survei gelombang kedua ini dilakukan, DKI Jakarta sebagai Ibu Kota dan pusat mayoritas aktivitas bisnis, sedang dalam status penerapan PSBB ketat kedua,” kata Soeprapto dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2020). Ia menjelaskan, bila dilihat dari hasil survei yang ada, penerapan PSBB ini tidak berpengaruh secara signifikan pada optimisme masyarakat terhadap situasi kondisi ekonomi di Indonesia.
“Kita berharap optimisme ini bisa menjadi momentum dan referensi untuk pemerintah pusat maupun provinsi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2020, tentunya dengan berbagai stimulus ekonomi yang sedang ataupun akan dijalankan sebagai upaya pemerintah terlepas dari ancaman resesi,” tuturnya. Dalam hasil survei gelombang kedua ini, dalam enam bulan ke depan, 60 persen masyarakat Indonesia berpendapat pemerintah harus tetap fokus dalam penanggulangan dan penyebaran Covid-19. Adapun 16 persen dari mereka berpendapat lebih penting pemerintah untuk tetap menyediakan bantuan atau stimulus ekonomi terhadap pendapatan.
Kemudian, 13 persen masyarakat mengaku lebih penting pemerintah fokus dalam melindungi pekerjaan masyarakat dan 11 persen berfokus pada masalah menjaga stabilitas harga barang. Apabila dibandingkan tiga bulan lalu, 48 persen masyarakat Indonesia tidak merasa yakin terhadap keamanan pekerjaan mereka, kerabat, ataupun orang terdekat mereka. Sehingga, apabila kasus Covid-19 kembali terjadi di masa depan, 91 persen masyarakat Indonesia mengaku khawatir bahkan sangat, pemerintah akan kembali menerapkan larangan ketat yang akan memengaruhi pendapatan mereka.
Survei tersebut dilakukan secara online pada 18 hingga 22 September 2020. Survei gelombang kedua ini meliputi negara-negara Asia Tenggara,yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Sampel yang digunakan dalam survei ini adalah 500 warga Indonesia berusia 18 tahun ke atas. Kriteria responden berdasarkan pada usia, jenis kelamin, dan status pernikahan digunakan untuk memastikan sampel tersebut mencakup distribusi populasi secara keseluruhan. Pengumpulan data dilakukan dengan metodologi online. Hasil yang didapat akurat hingga kurang lebih 3,5 persen terhadap pandangan dan perspektif seluruh warga Indonesia berusia mulai 18 tahun ke atas (95 persen kepercayaan interval).
Sumber: Kompas.com